Jujur saja

Jujur saja,
Aku sebenarnya ingin langsung menikahi kamu, setelah aku mampu dan siap segalanya, tanpa jalan ini,
Dan aku tau aku menanggung beban ini, dan tuhan pun tau bahwa aku mengetahui larangan ini,
Dan jujur saja karena memang aku tidak waktu sedetikpun terlewat untuk memikirkan kamu, tidak waktu sedetik pun untuk bisa selalu bersama kamu, dan aku tau itu sudah termasuk maksiat, seperti yang kamu katakan juga,
Dan jujur aku tau tuhan memberikan cinta ini, tapi bersamaan juga dengan nafsu, dan seharusnya aku menahannya, agar terhindar dari maksiat, tapi jika memang aku harus menghindari dan menahan perasaan ini, sama artinya aku juga harus menjauh dan melupakan kamu, itu yang tidak aku bisa, aku yakin jika aku melakukannya kamu tidak akan mengerti, sampai kamu akhirnya melupakan aku sebelum aku kembali dan meminangmu,
Dan jujur saja memang aku yang tidak pernah bisa jauh dan sedetik saja melupakan kamu.

Comments

  1. Hilang..
    Sosok itu kini hilang, gigi gingsul saat tersenyum, lirikan manja nan tak bisa ku lupa kini hilang,

    Ketika ego itu bergejolak, rasa ingin memilikinya pun sirna, ku kira cinta mati itu tidak ada, dengan berani aku hengkang dari hatinya, menarik hatiku karna ku kira cinta mati itu benar- benar tidak ada

    satu bulan pergi, ah biasa saja
    Dua bulan tiga bulan hm memang tidak ada
    Dan setelah bertahun2 lamanya aku pergi,
    Aku sadari cinta yang dulu menghangatkan tubuh itu kini  memudar, ia tak akan bertahan lama tanpa sang pemilik hati memberinya api, ia sudah padam, hari-hari yang biasa nya dilewati dg gembira, kukira itu karna memang cinta mati itu tidak ada, dan ketika cinta itu redup padam dan sirna, hatiku seorang diri bercahaya di kegelapan dunia, sendiri, dan tak bertuan
    Sebenrnya bukan tanpa pemilik,
    Ku tegaskan lagi, ini cinta mati,
    Dan ternyata cinta ini sulit untuk di padamkan

    Dan kini, hanya ada aku di kegelapan, dg tuntunan cintaku yg masih berkobar

    ReplyDelete

Post a Comment