manusia,satu sama lain bisa saling merasakan apa yang dirasa, menangis, ketika ada yang menangis sedih, tertawa ketika kita mendengar tawa,
dulu sekali waktu masih menjadi bayi, kita ini sangat peka, terhadap apa yang ada disekitar kita, dan jika kita merasa tak nyaman, kita sebagai bayi menangis, hanya itu yang dapat dilakukan,
namun ketika kita menangis, seorang ibu bisa paham dan mengerti kenapa menangis, dan tau cara membuat kita diam, dan berhenti menangis,'''
betapa kepekaan yang ada dulu itu, dari ibu, tidak kita dapatkan lagi, maka mulailah manusia merasa dirinya tidak ada yang memperhatikan, hatinya kosong, sosok ayah pun terkadang terlalu dingin untuk dimintai perhatiannya.😗
pada akhirnya, manusia itu mencari orang yang dapat membuatnya nyaman, namun disini lah awal mula perubahan karakter seorang manusia, di tunjang lingkungannya, ditunjang keluarganya, temannya, sekolahnya, pada masa ini lah seharusnya generasi-generasi penerus ini diberi contoh yang baik, ditempatkan pada lingkungan yang baik, pada teman yang baik, namun semua itu memerlukan pengawasan dari orang tua, lalu bagaimana seorang anak yang apabila kita lepas, kita dapat memastikan bahwa ia tetap menjadi anak yang baik,
menimbang dari yang pernah aku rasakan adalah dengan cara, menanamkan ilmu agama yang kuat, supaya apa, supaya si anak bisa tau dan mengerti apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dijauhi untuk dilakukan, sedari dini, jelas ini adalah peran orang tua,
juga menanamkan kepada si anak, untuk tetap mengingat allah, supaya apa supaya dihatinya tidak merasa ada kekosongan, supaya ia merasa bahwa ada allah walopun dalam kesendirian,
yang ditakutkan ketika si anak mulai merasa kurang perhatian dia akan mencari perhatian dari orang lain,
nah ketika mendapatkan perhatian itu, ia akan merasa nyaman, akhirnya dia merasa takut kehilangan, dan si anak akan berpikir keras supaya dia tidak kehilangan seseorang yang membuat nyaman itu, tidak di pungkiri kita akan mengikuti apa yang akan dilakukan seseorang itu apabila kita sudah sayang, menuruti apa yang disuruh oleh seseorang yang disayang, sebenarnya, sejauh ia mengikuti yang baik-baik, dan menuruti perintah yang baik-baik, tidak akan masalah, tapi bila mngikuti hal-hal yang tidak baik, menuruti perintah yang tidak baik, itu baru masalah, dan biasanya ini terjadi ketika orang tua berlepas diri dan tidak peduli lagi dengan siapa anakny berteman, dengan siapa anaknya dekat, berada dilingkungan mana anaknya tinggal, dan ini akar masalah dari generasi-generasi yang lebih banyak orang "buruk" nya dibanding "baik" nya.
dari itu, untuk orang tua, sekalipun anaknya di didik di sebuah pesantren yang ketat dijaga, digembleng keras oleh gurunya, tetap, akan ada sebuah karakter jahat diantara temannya, dan itu memang virus dari tempat yang baik, maka tetap pantau, tetap awasi, dengan siapa iya berteman.
Comments
Post a Comment