DUKAKU

dimana kau waktu peluru
penjajah itu menembus
kulitku, ketika aku
terbaring merasakan,
kau belum datang belum
membawa aroma kehidupan bebas,
ketika sebilah bambu
runcing terlepas dari
genggaman tanganku kau
mash belum datang, belum
ikut berjuang, kemana kau?
Apa kau kabur dan takut
terkubur, bukankah
pantangan bagimu untuk
itu,
kau harus berjuang bersamaku melawan yang
menghadang didepan,
namun ketika aku sekarat,
darah mengalir dari celah
peluru itu kau belum
datang juga, kemana kau, mana satu jiwa kita itu, aku
sahabatmu, bantulah aku!
Apa kau kabur dan takut
terkubur!?
Bukankah kelak kau juga
binasa, ketika tubuh mulai
mengkikil, wajah pucat,
barulah berbondong-
bondong datang
menghapus duka ini, tapi
bukan kau, kemana kau?!, Bukankah aku sahabatmu,
dukaku adalah dukamu
dan dukamu adalah
dukaku.

Comments